Dalam perkembangan perekonomian, baik di tingkat negara maupun dunia bisnis, istilah defisit kerap menjadi sorotan. Kondisi ini sering muncul dalam berbagai pemberitaan ekonomi, terutama saat suatu negara atau perusahaan tengah menghadapi tekanan keuangan.
Belakangan, isu defisit kembali ramai dibahas seiring dengan kabar bahwa perekonomian Indonesia mengalami defisit hingga ratusan juta dolar. Meski sering dipersepsikan sebagai tanda buruk, defisit tidak selalu mencerminkan kegagalan ekonomi. Pada kondisi tertentu, defisit justru dapat menjadi bagian dari strategi atau fase pertumbuhan.
Oleh karena itu, penting untuk memahami secara mendalam apa yang dimaksud dengan defisit: pengertian, penyebab, dampak dan cara mengatasinya terhadap bisnis, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengelola dan mengatasinya dengan tepat.
Pengertian Defisit
Secara sederhana, defisit dapat diartikan sebagai kondisi kekurangan, yaitu ketika jumlah yang dimiliki lebih kecil dibandingkan dengan kebutuhan atau kewajiban. Istilah ini sering digunakan dalam berbagai konteks, seperti keuangan (defisit finansial), perdagangan (defisit neraca perdagangan), kesehatan atau gaya hidup (defisit kalori), hingga pengelolaan anggaran negara.
Pada pembahasan kali ini, fokus utama adalah defisit keuangan dalam dunia bisnis. Dalam konteks usaha, defisit terjadi ketika total pengeluaran perusahaan melebihi pendapatan yang diperoleh. Kondisi ini biasanya muncul karena besarnya biaya operasional, pembayaran utang, atau pengeluaran lain yang tidak sebanding dengan pemasukan dari penjualan, investasi, maupun sumber pendanaan lainnya.
Pada dasarnya, defisit merupakan hal yang cukup umum dialami oleh bisnis, terutama pada tahap awal atau masa pengembangan. Namun, apabila berlangsung secara terus-menerus dan tidak dikelola dengan baik, defisit dapat menjadi indikasi adanya masalah keuangan yang berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha.
Penyebab Defisit
Munculnya masalah perekonomian sebuah organisasi/negara/perusahaan, atau dalam hal ini adalah defisit, tentu saja ada faktor penyebabnya.
Berdasarkan kondisi defisit yang dialami, beberapa faktor umum yang menjadi sebab kondisi ini yaitu:
1. Pembiayaan Pembangunan
Seperti halnya negara Indonesia yang masih termasuk kategori negara berkembang, negara-negara lain dengan kategori sama sering melakukan investasi besar di sektor pembangunan. Kegiatan pembangunan ini dimaksudkan agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Agar pembangunan bisa segera dirampungkan, maka dibutuhkan pembiayaan yang cukup besar.
Pembiayaan dari pihak luar dianggap lebih mempercepat tumbuhnya perekonomian. Beberapa contoh pembiayaan pembangunan yang sering dilakukan adalah:
- Pengadaan sarana dan prasarana keamanan/ketahanan
- Pembangunan infrastruktur
- Pembangunan lembaga pemasyarakatan dan sarana pengadilan
- Pembangunan daerah melalui transmigrasi penduduk
- Pembangunan bidang sosial yang meliputi kesehatan dan pendidikan
- Program pengentasan dan penanganan kemiskinan melalui P3DT dan PPK
2. Daya Beli Masyarakat Rendah
Faktor yang cukup membahayakan kondisi keuangan negara adalah menurunnya daya beli masyarakat. Seperti halnya kondisi pandemi Covid-19 sekarang ini membuat masyarakat lebih berhemat dalam berbelanja. Ketika hal ini terjadi, mungkin memang baik untuk kondisi keuangan setiap individu, tetapi justru menggiring perekonomian negara semakin merosot.
Ketika defisit terjadi akibat rendahnya daya beli masyarakat dan berlangsung dalam kurun waktu lama atau lebih dari dua kuartal, maka aka nada kemungkinan negara tersebut secara perlahan masuk ke jurang resesi.
Guna menghindari kondisi defisit, pemerintah akan memaksa masyarakat untuk meningkatkan jual beli di pasar dengan cara memberikan bantuan uang tunai, subsidi harga barang dan jasa. Metode ini akan berhasil jika masyarakat membelanjakan uangnya, sehingga kas negara akan bertambah.
3. Nilai Tukar Mata Uang Melemah
Nilai mata uang sebuah negara pasti mengalami naik turun sesuai kondisi perekonomiannya. Suatu negara bisa mengalami defisit ketika nilai tukar mata uangnya melemah. Faktor penyebab ini seringkali dialami oleh Indonesia karena melakukan pinjaman ke luar negeri.
Mengapa sangat berpengaruh? Ketika negara melakukan pinjaman uang ke Bank Sentral, maka perhitungannya berdasarkan valuta asing (USD). Sedangkan, ketika akan melunasi utang, Indonesia harus membayarnya dengan rupiah dan dikonversikan ke nilai mata uang dollar Amerika. Ketika nilai rupiah melemah, tentu saja nilai utang akan semakin tinggi.
4. Penyimpanan Realisasi dari Rencana
APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) adalah salah satu bagian penting dalam mengukur kondisi perekonomian suatu negara. Sebab, ketika program yang telah terencana tidak berjalan, bisa dipastikan jika realisasi anggaran tidak mencapai target.
Rencana APBN yang dibuat akan mengalami pemangkasan anggaran ketika pendapatan negara terlalu rendah. Pemerintah akan memaksa menutup kekurangan dengan uang kas negara. Kondisi semacam ini akan menghambat laju ekonomi, sehingga bisa menimbulkan defisit secara perlahan dan APBN harus dirombak penyusunannya.
5. Pengeluaran saat Inflasi
Selain kata defisit, dalam bidang ekonomi sering kali membahas istilah deflasi dan inflasi. Ternyata, terjadinya defisit di sebuah negara juga bisa disebabkan adanya pengeluaran terlalu besar ketika sedang inflasi. Inflasi ini biasanya dimulai dengan meningkatkan harga produk dan jasa di setiap tahun dari harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Inflasi sendiri merupakan melonjaknya harga produk dan jasa di pasaran yang disebabkan beberapa faktor. Mulai dari terhambatnya distribusi, likuiditas pasar berlebihan hingga konsumsi masyarakat yang meningkat tajam.
Ketika inflasi terjadi tanpa diduga-duga, beban biaya yang harus dikeluarkan pemerintah harus diubah dan disesuaikan. Rencana APBN yang semula 1 triliun bisa berubah di angka 2 hingga 3 triliun. Kondisi ini membuat uang kas negara semakin berkurang dan terjadilah defisit.
Dampak Defisit terhadap Bisnis
Defisit keuangan dapat menimbulkan berbagai risiko serius bagi kelangsungan usaha. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berdampak pada stabilitas operasional hingga keberlanjutan bisnis. Berikut beberapa dampak defisit yang perlu diwaspadai:
1. Arus Kas Menjadi Tidak Sehat
Arus kas menggambarkan perputaran uang masuk dan keluar dalam kegiatan operasional bisnis. Ketika defisit terjadi, jumlah pemasukan tidak mampu menutupi pengeluaran yang ada, sehingga arus kas menjadi tidak seimbang.
Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama, perusahaan akan kesulitan memenuhi kewajiban rutin, seperti membayar gaji karyawan, biaya sewa, hingga cicilan utang usaha.
2. Meningkatnya Ketergantungan pada Utang
Untuk tetap bertahan di tengah defisit, banyak bisnis memilih jalan pintas dengan mengandalkan pinjaman. Awalnya, utang mungkin membantu menutup kebutuhan operasional, namun jika defisit terus berlanjut, ketergantungan pada utang justru semakin besar.
Hal ini dapat memicu risiko keterlambatan pembayaran, denda dari pihak pemberi pinjaman, hingga potensi masalah hukum apabila kewajiban utang tidak dapat dipenuhi.
3. Menurunnya Kepercayaan Investor
Investor biasanya menilai kondisi keuangan perusahaan sebelum menanamkan modal, termasuk melihat laporan keuangan, kinerja manajemen, dan prospek bisnis ke depan. Bisnis yang terus mengalami defisit cenderung dianggap berisiko tinggi.
Apabila laporan keuangan menunjukkan kerugian yang berulang dan pengelolaan keuangan yang kurang efektif, kepercayaan investor terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan pun akan menurun. Pelajari apa itu laporan keuangan untuk menambah pengetahuanmu!
4. Risiko Bangkrut atau Gulung Tikar
Jika defisit keuangan tidak segera diatasi dan terus berlarut-larut, dampak terburuk yang dapat terjadi adalah bisnis harus menghentikan operasionalnya. Dalam kondisi yang lebih parah, perusahaan bahkan dapat dinyatakan pailit.
Pailit merupakan status hukum ketika perusahaan tidak mampu melunasi kewajiban utangnya dan secara resmi dinyatakan bangkrut oleh pengadilan.
Cara Mengatasi Defisit dalam Bisnis
Ketika bisnis mengalami defisit keuangan, diperlukan langkah yang tepat dan terencana agar kondisi tersebut tidak berlarut-larut. Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasi defisit dalam bisnis:
1. Melakukan Efisiensi Biaya
Pengeluaran yang terus membesar tanpa diimbangi pemasukan akan mempercepat terjadinya defisit. Oleh karena itu, sebelum mencari sumber dana tambahan, langkah awal yang sebaiknya dilakukan adalah menekan biaya operasional.
Bisnis dapat meninjau kembali pos pengeluaran yang tidak terlalu mendesak atau mencari alternatif yang lebih hemat. Sebagai contoh, jika harga bahan baku dari pemasok tertentu semakin mahal, perusahaan dapat mempertimbangkan bekerja sama dengan supplier lain yang menawarkan harga lebih kompetitif dengan kualitas yang setara.
2. Menyusun Strategi untuk Meningkatkan Pendapatan
Efisiensi biaya saja tidak cukup jika tidak disertai upaya menambah pemasukan. Untuk itu, bisnis perlu menyusun strategi baru guna meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar.
Misalnya, pelaku usaha yang sebelumnya hanya mengandalkan penjualan offline dapat mulai memanfaatkan marketplace atau media sosial untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Dengan peningkatan volume penjualan, risiko defisit pun dapat ditekan.
3. Mencari Sumber Pendanaan Tambahan
Apabila langkah efisiensi dan peningkatan pendapatan belum mampu menutup defisit, pendanaan tambahan dapat menjadi alternatif solusi. Sumber dana ini bisa berasal dari pinjaman bank, modal ventura, maupun investasi dari pihak ketiga.
Namun, penting untuk memastikan bahwa dana tambahan tersebut digunakan secara terencana dan strategis, bukan sekadar untuk menutup kerugian tanpa perbaikan sistem dan kinerja bisnis.
4. Mengevaluasi dan Menyesuaikan Model Bisnis
Defisit juga dapat muncul akibat model bisnis yang sudah tidak efektif atau tidak lagi sesuai dengan perkembangan pasar. Dalam kondisi seperti ini, evaluasi menyeluruh terhadap model bisnis menjadi sangat penting.
Sebagai contoh, usaha penyewaan DVD yang semakin ditinggalkan konsumen perlu beradaptasi dengan perubahan perilaku pasar, misalnya dengan beralih ke layanan digital atau model bisnis lain yang lebih relevan dan berpotensi menghasilkan keuntungan.
Kesimpulan
Defisit merupakan kondisi ketika pengeluaran melebihi pendapatan, baik dalam skala bisnis maupun negara. Dalam dunia usaha, defisit adalah hal yang cukup umum terjadi, terutama pada masa awal operasional atau saat bisnis berada dalam fase pengembangan.
Namun, jika dibiarkan berlangsung terus-menerus tanpa pengelolaan yang tepat, defisit dapat menimbulkan dampak serius, mulai dari terganggunya arus kas, meningkatnya ketergantungan pada utang, menurunnya kepercayaan investor, hingga risiko kebangkrutan. Pelajari bagaimana globalisasi ekonomi yang bisa kamu ketahui!
Defisit dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tingginya biaya operasional, menurunnya daya beli, pelemahan nilai tukar, ketidaksesuaian perencanaan anggaran, hingga inflasi. Oleh karena itu, bisnis perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai kondisi keuangan serta mampu melakukan evaluasi secara berkala.
Untuk mengatasi defisit, langkah-langkah strategis seperti efisiensi pengeluaran, peningkatan pendapatan, pencarian pendanaan tambahan yang terukur, serta penyesuaian model bisnis menjadi sangat penting. Dengan pengelolaan keuangan yang disiplin dan strategi yang tepat, defisit tidak hanya dapat dikendalikan, tetapi juga dijadikan momentum untuk memperbaiki kinerja dan memperkuat fondasi bisnis agar lebih berkelanjutan di masa depan.