10 Ciri Kebahasaan Teks Pidato Persuasif Agar Pidatomu Jadi Hidup

Teks pidato persuasif banyak digunakan dalam aktivitas ceramah agama dan seminar. Ada banyak ciri kebahasaan teks pidato persuasif yang bisa kamu pelajari secara lengkap dan mendalam artikel ini.

Saat kamu menguasai proses pembuatan teks persuasif, maka kalian akan mudah membuat kalimat persuasif untuk berbagai acara, tempat dan situs yang berbeda-beda.

Bukan hanya itu, Anda juga akan menyampaikan teks pidato ini baik dari sisi tulisan atau lisan (pidato)

Apa yang dimaksud dengan kebahasaan pidato persuasif? Kebahasaan dalam teks pidato persuasif adalah ciri, tanda dan sesuatu yang melekat pada kalimat persuasif.

Apa saja ciri kebahasaan dalam teks pidato? Yuk, simak pembahasan lengkapnya dalam artikel ini.

Apa Tujuan Pidato Persuasif ?

Jauh sebelum kita mengupas ciri kebahasaan teks persuasif, tentu kita perlu tahu apa tujuan pidato persuasif.  Tujuan pidato persuasif adalah agar audience bisa memahami apa yang pembicara sampaikan dengan baik dan mereka mampu memberikan saran dan kritik yang membangun.

Baca juga: 6 Contoh Ceramah Singkat Ramadhan Untuk Anak SD

1# Mengajak Dan Memengaruhi

Pidato persuasif merupakan salah satu pidato yang isinya mengajak atau mempengaruhi orang agar mengikuti ide atau gagasan dari pembicara. Sehingga mereka biasanya menggunakan kata-kata yang sifatnya mengajak dan mempengaruhi. Kata-kata yang sifatnya mengajak atau mempengaruhi ini misalnya saja seperti kata; ayo, mari dan kata-kata yang berakhiran -lah.

Kata-kata ini bila disampaikan pada momentum yang tepat, orang-orang yang tepat dan gaya yang tepat, maka kemungkinan gagal itu kecil.

Saat mengajak menggunakan kata ajakan atau mempengaruhi tapi bisa berefek positif pada audience. Tak apa-apa. Tugas kita bukan membuat anak pintar  dan rapi. Tetapi tugas kita adalah mengenalkan mereka bahwa mereka berharga dan layak jadi orang sukses.

2# Menampilkan Pendapat Dan Fakta

Untuk memperkuat ide dan gagasannya, maka seorang pembicara biasanya menampilkan pendapat dan fakta. Pendapat dan fakta ini biasanya merujuk pada pendapat seorang tokoh yang berpengaruh dan dikenal oleh komunitasnya itu. Sehingga gagasannya tampak  berkualitas dan layak diikuti oleh pendengarnya.

Misalnya, mereka berpidato dengan topik keagamaan. tepatnya agama Islam. Maka mereka akan menggunakan dalil dan keterangan dari al Quran dan al Hadis serta pendapat ulama untuk menguatkan ide dan gagasan mereka. Sehingga tak ada alasan bagi para pemirsa dan pendengar untuk menyangga dan membantah apa yang disampaikan oleh penceramah.

3# Menggunakan Kata-Kata Ajakan Dan Bujukan

Saat seorang penceramah berpidato, maka tujuannya untuk mempengaruhi dan mengajak orang yang ada di hadapannya. Maka, mereka sering menggunakan kata-kata ajakan dan bujukan. Seperti kata; maukah, sudikah, daripada, mending, dan lain sebagainya.  Kata-kata ini memang lazim digunakan untuk mengajak seseorang untuk melakukan sesuatu atau mengajak seseorang untuk meninggalkan sesuatu.

4# Menggunakan Kalimat Aktif

Salah satu ciri dari pidato persuasif adalah menggunakan kalimat aktif. Sehingga saat mereka menggunakan kalimat aktif, maka kalimatnya akan kuat, kokoh dan memiliki penekanan.

5# Menggunakan Kata Ganti Kita

Para penceramah dan pembicara sering juga menggunakan kata ganti “kita”. Kata kita ini, biasanya digunakan untuk merangkul,  membangun persamaan, persepsi dengan audience. Sehingga antara pembicara dan audiens tak ada perbedaan yang tajam dan mencolok dalam urusan kedekatan hati dan jiwa.

Sehingga ide dan gagasan yang disampaikan oleh pembicara akan mudah masuk ke alam bawah sadar pendengar tanpa adanya filter di dalam otaknya,

Hal ini penting untuk menegaskan bahwa apa yang disampaikan adalah sesuatu yang benar dan tak pernah ditolak oleh critical thinking yang ada dalam otaknya.

6# Menggunakan Kata Sapaan

Dalam praktiknya, kalimat pidato persuasif biasanya menggunakan kata-kata sapaan. Lagi-lagi, hal ini untuk membangun persepsi bahwa pembicara memiliki hubungan dekat dengan audience. Mereka adalah orang yang peduli terhadap audiens dan masa depan mereka.

Sehingga tanpa sadar, mereka seakan-akan mengatakan kepada audience bahwa saya sangat peduli dengan kehidupan kamu dunia akhirat. Maka, nasehat yang aku sampaikan ini perlu kamu dengarkan, kamu pahami dan kamu amalkan dalam kehidupan sehari-hari agar kamu selamat dunia akhirat.

7# Kalimat Yang Bersifat Membangun

Dalam membangun kalimat persuasif, seorang pembicara perlu menggunakan kalimat-kalimat yang membangun. Sehingga membuat pendengar merasa semangat dan antusias untuk mendengar apa yang mereka sampaikan hingga akhir.

Seorang pembicara juga perlu menyampaikan topik yang membuat orang merasa kecil dan rendah di hadapan Tuhan. Tetapi mereka juga perlu dibesarkan jiwa dan hatinya agar semangat menjalani hidup ini. Karena manusia adalah makhluk paling mulia ciptaan Tuhan.

Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk ibadah dalam arti luas. Bukan sekedar untuk beribadah siang malam tetapi juga ibadah dalam bentuk produktivitas dan menghasilkan karya yang bermanfaat untuk manusia.

8# Menggunakan Kata-kata Mental

Seorang pembicara perlu menyampaikan ide dan gagasannya dengan kalimat-kalimat yang kuat. Kalimat ini terkenal dengan istilah kata kerja mental. Seperti kata; memperkirakan, berpendapat, mengagumkan, menyimpulkan, menduga. Sehingga berasumsi bila kalimat ini terucap seakan-akan sebuah kenyataan. Padahal, dia adalah sebuah pendapat dari orang lain atau ide saja.

9# Menggunakan Kata Rujukan

Untuk memperkuat ide dan gagasannya, mereka tidak serta-merta hanya berputar pada apa yang ada dalam otak dan pikirannya saja. Tetapi mereka juga merujuk pada data, pendapat dan fakta yang kuat. Semisal, saat mereka membahas tentang sholat.

Biasanya mereka menyebutkan surat dan ayat yang membahas tentang sholat. Atau menyebutkan kitab hadis, dan nama periwayatnya yang membahas tentang shalat ini.  Hal ini memperkuat ide dan gagasan penceramah agar mudah diterima oleh audience.

Bila pembicara menggunakan kata-kata rujukan yang tepat, maka materi pidato yang mereka sampaikan akan mudah diterima oleh banyak masyakarat.

10# Menggunakan Kata-kata Yang Emosional

Seorang pembicara ia membangun narasi persuasif perlu menggunakan kata-kata yang mampu membangkitkan emosi audiensnya. Sehingga apa yang mereka sampaikan akan mampu menciptakan gambaran besar dalam imajinasi audience. Sehingga merangsang mereka untuk melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu. Intinya, kata-kata ini mampu membuat audience tersentuh dan bergetar hatinya.

Misalnya saja, mereka menggunakan kalimat-kalimat seperti:

Sebagai pelajar tangguh, jangan pernah kalian tunduk pada kemalasan. Bangun impian dan cita-cita kalian sekarang juga.

Sebagai siswa berprestasi, jangan pernah kamu berkecil hati. Masa depan ada di hadapan kalian. Tugas kalian hanya berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar impian dan cita-cita kalian.

Meraih kesuksesan adalah hak setiap orang tanpa terkecuali. Kesuksesan hanya akan datang pada orang-orang yang mempersiapkan diri dan meyakini bahwa mereka akan sukses.

Baca juga: Pengertian Teks Pidato Persuasif. Jenis, Tujuan Dan Strukturnya

Penutup

Kalimat penutup sangat penting adanya, penutup penting untuk teks kalimat persuasif agar audience tahu bahwa ceramah akan segera selesai. Sehingga pembicara bisa memberikan kesimpulan dan ringkasan yang tepat atas materi yang mereka sampaikan. Memahami ciri kebahasaan teks pidato persuasif akan memudahkan kamu membuat teks pidato persuasif yang bagus dan berkualitas.