Bhinneka Tunggal Ika: Sejarah, Arti, Makna, Prinsip, dan Penerapannya

Bangsa Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam budaya yang berbeda, mulai dari Agama, suku, bahasa, hingga adat istiadat sangatlah berbeda tiap daerahnya. Untuk mempersatukan sebuah wilayah dengan budaya yang berbeda-beda ini Indonesia menggunakan sebuah semboyan, dimana semboyan tersebut ialah Bhinneka Tunggal Ika.

Bhinneka tunggal ika sendiri memiliki arti yang sangat besar dalam mempersatukan bangsa, bahkan dalam lambang pancasila di burung garuda terdapat semboyan tersebut.

bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara merupakan satu dari 4 pilar kebangsaan selain Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara.

Berikut penjelasan tentang bhinneka tunggal ika: sejarah, arti, makna, prinsip, dan penerapannya yang bisa kamu pelajari:

Sejarah Bhinneka Tunggal Ika

Bhineka Tunggal Ika
bhinneka Tunggal Ika

Pada awal kemunculannya, Bhinneka Tunggal Ika merupakan ungkapan yang mencerminkan semangat toleransi keagamaan, khususnya antara ajaran Hindu dan Buddha. Semboyan ini menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan secara harmonis.

Istilah Bhinneka Tunggal Ika berasal dari Kitab Sutasoma, sebuah kakawin karya Mpu Tantular yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 Masehi. Ungkapan tersebut tercantum dalam bait ke-5 pupuh 139, yang menggambarkan persatuan nilai spiritual meskipun terdapat perbedaan ajaran.

Dalam bait tersebut dijelaskan bahwa Buddha dan Siwa memang tampak berbeda, namun pada hakikatnya memiliki kebenaran yang satu. Makna ini menegaskan bahwa perbedaan tidak meniadakan kesatuan, melainkan justru memperkaya kehidupan bersama.

Menurut kajian yang dimuat dalam jurnal Letkol Czi Dr. Syafril Hidayat, psc, M.Sc, yang mengutip buku Bung Hatta Menjawab (1979), Mohammad Hatta menuliskan bahwa setelah Indonesia merdeka, semboyan Bhinneka Tunggal Ika resmi dicantumkan pada lambang negara. Lambang tersebut dirancang oleh Sultan Abdul Hamid II dari Pontianak dan disahkan penggunaannya oleh Kabinet RIS pada 11 Februari 1950.

Melalui semboyan ini, Indonesia menegaskan dirinya sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdiri di atas keberagaman. Secara historis, semboyan Bhinneka Tunggal Ika pertama kali diteliti oleh Prof. H. Kern pada tahun 1888, berdasarkan naskah lontar yang tersimpan di Perpustakaan Leiden dengan judul Purusadasanta atau Sutasoma.

Penelitian terhadap semboyan ini kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Yamin, yang membahasnya dalam buku 6000 Tahun Sang Merah Putih pada tahun 1954. Sejak saat itu, makna Bhinneka Tunggal Ika terus berkembang dan mengalami proses pematangan, mulai dari masa sebelum kemerdekaan, pergerakan nasional tahun 1928, hingga berdirinya Negara Republik Indonesia pada tahun 1945.

Setelah ditetapkan sebagai semboyan resmi bangsa, Bhinneka Tunggal Ika menjadi pernyataan jati diri Indonesia sebagai bangsa yang mengakui keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan, namun tetap menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan nasional.

Arti Bhinneka Tunggal Ika

Bhineka Tunggal Ika
Bhineka Tunggal Ika

Secara harfiah, istilah Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Ungkapan ini menjadi semboyan resmi bangsa Indonesia dan tercantum pada lambang negara Garuda Pancasila sebagai simbol persatuan nasional.

Konsep Bhinneka Tunggal Ika diambil dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, seorang pujangga pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 Masehi. Sejak dahulu, semboyan ini telah mencerminkan semangat persatuan di tengah keberagaman.

Secara etimologis, kata Bhinneka berarti beragam atau berbeda-beda, Tunggal bermakna satu, dan Ika berarti itu. Jika digabungkan, Bhinneka Tunggal Ika dimaknai sebagai pengakuan terhadap keberagaman yang tetap berada dalam satu kesatuan.

Makna tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia menyadari dan menerima kenyataan sebagai bangsa yang majemuk, baik dari segi suku, bahasa, agama, ras, golongan, maupun budaya. Meskipun memiliki banyak perbedaan, persatuan dan kesatuan tetap menjadi nilai utama yang dijunjung tinggi.

Menurut I Nyoman Pursika (2009) dalam jurnal Kajian Analitik terhadap Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, semboyan ini mencerminkan keseimbangan antara unsur perbedaan yang melahirkan keberagaman dan unsur kesamaan yang membentuk persatuan. Dengan kata lain, Bhinneka Tunggal Ika menegaskan adanya harmoni antara keanekaragaman dan kesatuan.

Pada awalnya, konsep Bhinneka Tunggal Ika digunakan untuk menggambarkan toleransi beragama antara Hindu dan Buddha. Namun, setelah ditetapkan sebagai semboyan bangsa, maknanya berkembang lebih luas. Perbedaan yang dimaksud tidak hanya mencakup agama, tetapi juga meliputi perbedaan suku, bahasa, ras, budaya, adat istiadat, hingga perbedaan pendapat, pemikiran, dan minat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai salah satu dari empat pilar kebangsaan Indonesia, selain Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, nilai Bhinneka Tunggal Ika harus dipahami dan diamalkan oleh setiap warga negara. Prinsip ini menjadi landasan penting dalam menjaga persatuan, toleransi, dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketahui bagaimana mempertahankan kemerdekaan Indonesia untuk menambah pengetahuanmu!

Makna Bhinneka Tunggal Ika

Bhineka Tunggal Ika
bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka tunggal ika memiliki makna yang sangat besar bagi bangsa Indonesia, dimana semboyan ini sebagai pemersatu bangsa. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki sebanyak 17.000 lebih pulau, 60% wilayah laut yang memisahkan beragam pulau, dan terdapat suku daerah atau ras yang berbeda-beda.

Dengan perbedaan yang sangat besar antara tiap daerah di Indonesia ini, membuat Indonesia harus bisa disatukan dengan sebuah cara. Dimana semboyan ini adalah cara Indonesia dalam menyatukan wilayah yang memiliki latar belakang dan sejarah yang berbeda tiap daerahnya.

Bukan hanya itu saja namun semboyan yang satu ini sangat penting sebagai tonggak tercapainya tujuan bangsa, hal itulah yang membuat semboyan ini dibawa oleh burung garuda yang memiliki lambang tujuan bangsa berupa Pancasila. Disini semboyan Bhinneka tunggal ika dituliskan pada sebuah pita, lalu dibawa oleh burung garuda dengan cara mencengkramnya menggunakan kaki.

Prinsip Bhinneka Tunggal Ika

Bhineka Tunggal Ika
Bhineka Tunggal Ika

Pada hakikatnya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki peranan yang sangat penting karena mencerminkan nilai toleransi dan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semboyan ini menjadi pedoman agar keberagaman tidak menimbulkan perpecahan, melainkan memperkuat persatuan.

Toleransi menjadi kunci utama karena sikap saling menghargai mampu meredam perbedaan sehingga tidak berkembang menjadi konflik. Oleh sebab itu, kebhinnekaan harus dipahami melalui perspektif multikulturalisme yang berlandaskan nilai spiritual, mencakup perbedaan etnis, agama, budaya, hingga ideologi.

Berikut beberapa prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang perlu dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Common Denominator (Mencari Titik Persamaan)

Indonesia memiliki beragam agama, suku, adat, dan budaya. Prinsip ini menekankan pentingnya mencari persamaan di tengah perbedaan, khususnya dalam kehidupan beragama, agar seluruh masyarakat dapat hidup rukun dan damai.

Keberagaman adat dan budaya di setiap daerah tetap diakui keberadaannya, namun semuanya dipersatukan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

2. Tidak Bersifat Sektarian dan Eksklusif

Prinsip ini mengajarkan bahwa setiap warga negara tidak boleh merasa diri atau kelompoknya paling benar dibandingkan yang lain. Sikap sektarian dan eksklusif harus dihindari karena dapat memicu konflik akibat rasa curiga, kecemburuan, serta sikap berlebihan yang mengabaikan keberadaan pihak lain.

3. Tidak Bersifat Formalistis

Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi semboyan semata, tetapi harus diwujudkan dalam sikap nyata. Nilai persatuan dibangun melalui rasa saling mencintai, menghormati, mempercayai, dan menjaga kerukunan antar sesama, sehingga keberagaman dapat menyatu dalam identitas keindonesiaan.

4. Bersifat Konvergen

Keberagaman tidak untuk dipertajam atau dipertentangkan, melainkan diarahkan untuk menemukan titik temu bersama. Sikap toleran, inklusif, saling percaya, dan rukun menjadi syarat utama agar berbagai kepentingan dapat bertemu demi tujuan bersama.

5. Prinsip Pluralistik dan Multikultural

Bhinneka Tunggal Ika mengandung nilai toleransi, kesetaraan, kedamaian, kebersamaan, dan keterbukaan. Prinsip ini mendorong masyarakat untuk menghargai perbedaan budaya, agama, dan suku bangsa, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan global tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Sikap saling menghormati, menghargai karya orang lain, serta bekerja sama tanpa membeda-bedakan latar belakang menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan nasional.

6. Semangat Gotong Royong

Gotong royong tidak hanya diwujudkan dalam kegiatan fisik seperti kerja bakti, tetapi juga dalam menghadapi tantangan modern, seperti melawan penyebaran hoaks dan informasi palsu.

Masyarakat diharapkan membiasakan diri untuk memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, mengingat dampak negatif hoaks dapat merusak persatuan dan merongrong nilai kebhinnekaan. Semangat gotong royong ini memperkuat jiwa nasionalisme, demokrasi, kesadaran hukum, dan sikap multikultural sebagai ciri warga negara yang bertanggung jawab.

Fungsi Bhinneka Tunggal Ika

Sebagai semboyan bangsa dan negara, ada beberapa fungsi  Bhinneka Tunggal Ika, antara lain:

  1. Landasan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia
  2. Pedoman kehidupan dan sarana untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia
  3. Sarana menciptakan toleransi
  4. Cara pandang dalam pengambilan kebijakan hukum dan politik

Fakta-Fakta Menarik Bhinneka Tunggal Ika

Berikut ini adalah beberapa fakta menarik Bhinneka Tunggal Ika:

1. Bersumber dari Lontar Sutasoma

Kata Bhinneka Tunggal Ika diambil dari Lontar Sutasoma karya Mpu Tantular, seorang pujangga adab 14 pada masa Majapahit dan masih terhitung kerabat kerajaan di masa pemerintahan raja Rajasanegara. Kata Bhinneka Tunggal Ika sendiri diambil dari salah satu penggalan syair Sutasoma. Berikut adalah bunyi dalam bahasa Sansekerta dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Artinya: Buddha dan Siwa sebagai dua zat yang berbeda namun bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa yang tunggal Berpecah belah lah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

2. Bukan Ciptaan Bung Karno

Pada buku karangan Mohammad Hatta dengan judul “Bung Hata Menjawab” tertulis bahwa Soekarno lah yang menciptakan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Yang dimaksud di sini bukan berarti Bung Karno yang menciptakan, akan tetapi Bung Karno yang mengusulkan ditambahkannya istilah tersebut ke dalam pita yang dicengkeram burung garuda dalam lambang negara kita.

Burung garuda sebelumnya didesain mencengkeram bendara merah putih. Namun kemudian diganti dengan pita yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika yang selanjutnya digunakan sebagai semboyan negara.

3. Tersimpan di Perpustakaan Leiden

Dengan eratnya hubungan antara Indonesia dan Belanda, Lontar Sutasoma menjadi salah satu arsip yang tersimpan di perpustakaan Leiden dengan bait yang memuat frasa Bhinneka Tunggal Ika pada lembar ke-120 lontar Sutasoma.

4. Bukan Hanya tentang Persatuan Suku

Bhinneka Tunggal Ika bukan cuma tentang perbedaan suku dan budaya yang mesti disatukan, namun juga perbedaan pemikiran. Menurut Sultan Hamid, Bung Karno menggambarkan frasa Bhinneka Tunggal Ika sebagai persatuan pemikiran federalis dan kesatuan pada Republik Indonesia Serikat (nama negara Indonesia pada masa itu). Pelajari tentang contoh teks pancasila yang bisa kamu ketahui!

Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme

1. Kesatuan Sejarah

Bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang dari sebuah proses sejarah. Yaitu sejak zaman prasejarah, zaman kerajaan Hindu-Budha, sumpah pemuda 1928 dan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

2. Kesatuan Nasib

Bangsa Indonesia terbentuk karena kesamaan nasibnya yaitu merasakan penderitaan penjajahan selama ratusan tahun hingga kemudian memperjuangkan kemerdekaan bersama-sama hingga akhirnya mendapatkan kegembiraan dalam bentuk kemerdekaan.

3. Kesatuan Wilayah

Bangsa Indonesia hidup di wilayah kepulauan nusantara, tersebar masyarakatnya dari Sabang sampai Merauke. Kesatuan asas bangsa sebagai salah satu cita-cita, filsafat, dan pandangan hidup yang berakar pada pandangan hidup Pancasila.

4. Kesatuan Kebudayaan

Meskipun bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman kebudayaan seperti rumah adat, pakaian adat, bahasa, acara adat, dan lainnya. Namun kesemuanya itu merupakan satu kebudayaan yaitu kebudayaan nasional Indonesia.

Keberagaman dan Contoh Bhineka Tunggal Ika

1. Keberagaman Suku

Dari ensiklopedia Indonesia, suku bangsa adalah kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang memiliki garis keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya.

Kelompok suku ini memiliki kesamaan dalam sejarah, keturunan, bahasa, sistem nilai, adat istiadat, serta tradisi. Menurut Koentjaraningrat, suku bangsa adalah sekelompok manusia yang memiliki kesatuan budaya dan terikat kesadaran akan identitas.

Contoh suku di Indonesia paternalistik (garis keturunan ayah) adalah suku Jawa dan Batak. Sedangkan suku yang mengikuti garis keturunan ibu (maternalistik) adalah suku Minangkabau.

2. Keberagaman Agama

Sila pertama dalam Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan dasar dan ideologi negara. Di Indonesia, agama berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Negara menjamin tiap warga negara untuk beribadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing.

Jaminan dalam beragama terdapat pada pasal 29 ayat 2 UUD negara Republik Indonesia tahun 1945. Di Indonesia ada 6 agama resmi yang diakui yaitu, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.

3. Keberagaman Ras

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), ras adalah golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik, rumpun, dan bangsa. Ras dikelompokan berdasarkan dari bentuk muka, badan, hidung, dan warna kulit.

Contoh ras di negara Indonesia adalah ras Mongoloid di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Ras Melanesoid yaitu Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Di samping itu terdapat juga ras Asiatic Mongoloid seperti orang Tionghoa, Jepang, dan Korea.

4. Keberagaman Antargolongan

Golongan adalah kelompok dalam masyarakat yang beragam. Dalam ilmu sosiologi dikenal istilah stratifikasi sosial yaitu pengelompokan masyarakat dalam kelas-kelas sosial tertentu.

Walau terjadi keberagaman antar golongan, adanya semboyan negara dapat mendorong kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa. Keberagaman antargolongan juga bisa menumbuhkan kesadaran bagi setiap warga negara.

5. Identitas Nasional

Identitas nasional merupakan ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa. Dalam jurnal “Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Benteng Terhadap Risiko Keberagaman Bangsa Indonesia” menyatakan identitas nasional sebagai wujud usaha mempersatukan keberagaman serta pencegahan konflik.

Bentuk identitas nasional seperti:

  • Ideologi negara adalah Pancasila
  • Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia
  • Lagu kebangsaan adalah Indonesia Raya
  • Semboyan negara adalah Bhinneka Tunggal Ika
  • Bendera negara adalah Bendera Merah Putih
  • Dasar konstitusi adalah UUD 1945
  • Bentuk negara dan pemerintahan adalah republik

Tujuan Bhinneka Tunggal Ika

Bhineka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika

1. Mempersatukan Bangsa Indonesia

Bhinneka tunggal ika digunakan sebagai pondasi Negara Indonesia bukanlah tanpa alasan, namun semboyan yang satu ini memiliki tujuan yang sangat bail bagi seluruh rakyat Indonesia. Tujuan yang pertama adalah sebagai pemersatu bangsa, hal ini tentunya tidak asing lagi mengingat Bhinneka memang memiliki tujuan utama untuk menyatukan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan.

Semboyan Indonesia mengenai persatuan dalam keragman ini sendiri merujuk pada persatuan beragam jenis perbedaan yang ada di Indonesia, hal tersebutlah yang membuat semboyan ini sangat kuat sebagai pondasi bangsa Indonesia. Apalagi semboyan ini dapat diterima oleh seluruh masyarakat yang ada di Indonesia.

2. Meminimalisir Konflik Atas Kepentingan Pribadi atau Kelompok

Adanya toleransi yang sangat besar merupakan ciri khas dari Bhinneka tunggal ika, sehingga semboyan ini juga memiliki tujuan untuk meredam konflik atas kepentingan pribadi ataupun kelompok. Tak heran bila terjadi masalah atau konflik, masyarakat Indonesia cenderung menyelesaikannya secara bermusyawarah.

Dengan melakukan bermusyawarah Indonesia akan terhindar dari yang namanya konflik, disini musyawarah digelar tidak memandang atau memihak pada satu kelompok. Melainkan harus digelar secara adil dan tidak mendesak kelompok manapun. Dengan begini konflik bisa di redam dengan aman dan damai antara kedua belah pihak.

3. Mempertahankan Kesatuan Bangsa

Indonesia memang memiliki wilayah yang sangat luas dengan beragam budaya dan pemikiran masing-masing, namun sebuah wilayah atau daerah pastinya banyak yang tidak suka dengan daerah lainnya. Hal ini mengakibatkan

Indonesia sangat rawan akan terpecah belah, disinilah peran Bhinneka tunggal ika sangatlah penting yaitu mempertahankan kesatuan bangsa.

Dengan memegang teguh moto sebagai negara “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, Negara Indonesia diharapkan tetap utuh dan tidak ada perpecahan dimana pun. Bila terdapat perpecahan daerah lainnya akan berusaha untuk mempertahankan wilayah yang akan pecah tersebut, kerja sama inilah yang membuat Indonesia hingga kini masih tetap utuh secara keseluruhan.

4. Mencapai Cita-cita Negara Indonesia

Bhinneka tunggal ika biasa ditulis dalam pita yang ada dipegang oleh garuda, di garuda tersebut terdapat lambang tujuan negara yaitu Pancasila. Semboyan yang berasal dari bahasa kuno inilah yang memegang peranan penting terhadap tercapainya tujuan negara berupa Pancasila tersebut.

Hal ini membuat motto Bhinneka tunggal ika harus kuat dan diterapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia, agar bangsa bisa mencapai cita-cita yang telah diharapkan sejak dahulu yaitu tercantum dalam Pancasila.

5. Menciptakan Perdamaian

Seseorang yang memiliki pendapat berbeda dengan lainnya pasti sering kali terjadi konflik, bukan hanya perseorangan saja namun kelompok, organisasi, bahkan sebuah wilayah bisa saja terjadi konflik. Nah disinilah Bhinneka tunggal ika sangat berguna untuk menyadarkan masyarakat bahwa pendapat tidak boleh dipaksakan.

Selain itu dengan memegang arti dan makna dari semboyan ini akan membuat Indonesia bisa tetap damai, tidak ada konflik, pertikaian, ataupun perkelahian di antara sesama penduduk Indonesia. Namun sayangnya hal tersebut belum bisa diterapkan secara penuh di Negara Indonesia, mengingat masih banyak konflik yang terjadi hanya karena masalah perbedaan pendapat saja.

Seharusnya masyarakat Indonesia harus mulai sadar akan indahnya hidup berdampingan dengan budaya-budaya lain di Indonesia, dimana bermasyarakat akan lebih berwarna dan juga bisa mengenal kebudayaan lain serta memahami sifat positif dari kebudayaan tersebut.

6. Mewujudkan Masyarakat Madani

Masyarakat madani merupakan masyarakat yang memiliki adab terhadap sesamanya, bersosial dan bermasyarakat damai adalah ciri khas masyarakat madani. Menjadi masyarakat madani ini juga menjadi salah satu tujuan yang sangat penting dari Bhinneka tunggal ika, dimana masyarakat Indonesia bisa bersosial tanpa memandang suku, ras, ataupun perbedaan lainnya.

Semua masyarakat berhak menjalin hubungan dengan siapa saja tanpa terkecuali, sehingga dengan ini masyarakat madani bisa diterapkan di Indonesia. Pentingnya menegakkan masyarakat madani di Indonesia tidak lepas dari beragamnya kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia itu sendiri.

Namun dalam kenyataannya di Indonesia saat ini belum bisa menerapkan hal ini, masih banyak faktor yang menjadi penghalang seperti golongan, kelompok, ataupun kelas sosial yang berbeda membuat masyarakat Indonesia enggan bersosial dengan sesama masyarakat Indonesia lainnya.

Dampak Bhinneka Tunggal Ika

Bhineka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika

1. Dampak Positif

Bhinneka tunggal ika hadir untuk membawa Indonesia menjadi negara yang lebih maju, makmur, damai, dan juga bersosial budaya. Oleh karena itu semboyan ini memiliki banyak sekali dampak positif yang diberikannya, salah satunya tentu saja adalah persatuan bangsa Indonesia.

Selain itu Bhinneka tunggal ika juga dapat menumbuhkan sikap toleransi di tengah-tengah masyarakat Indonesia, sikap toleransi ini bisa sangat bermanfaat dalam kehidupan sosial di Indonesia. Dimana tidak ada pertikaian karena suatu perbedaan tertentu.

Dampak positif lainnya adalah memunculkan sikap solidaritas, hal ini terjadi karena semboyan ini menekankan pada kehidupan sosial bersama walaupun berbeda suku atau ras. Dengan berkumpulnya masyarakat dengan golongan berbeda ini, akan membuat sikap tolong menolong dan solidaritas bisa semakin berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

2. Dampak Negatif

Bukan hanya dampak positif saja namun ada juga dampak negatif yang ditimbulkan, dimana dampak ini secara tidak langsung bisa memengaruhi perilaku masyarakat Indonesia. Dampak negatif tersebut adalah banyaknya salah penafsiran yang dilakukan oleh beberapa golongan.

Dengan banyak yang salah penafsiran ini bukannya membuat damai, namun semboyan yang memiliki makna baik ini dijadikan sebagai alasan konflik yang sering terjadi. Banyak masyarakat yang menyuarakan hak-hak yang bertentangan dengan norma di Indonesia, hal tersebut tidak bisa dihindari mengingat semnoyan Indonesia ini memperbolehkan masyarakat untuk menganut bahasa, suku, ras, ataupun kepercayaan.

Selain itu semboyan ini sering kali di salah gunakan oleh kelompok radikal yang mengancam negara, mereka beralasan bahwa kehidupan sosial seperti apapun diperbolehkan di Indonesia. Salahnya penafsiran Bhinneka tunggal ika ini sangat sering terjadi, terutama di wilayah-wilayah yang kurang akan pengetahuan seputar Negara Indonesia itu sendiri.

Penerapan Bhinneka Tunggal Ika

Bhineka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika

1. Mementingkan Kepentingan Bersama

Sebagai masyarakat Indonesia yang baik tentu saja wajib untuk menerapkan isi dari Bhinneka tunggal ika, salah satu cara penerapan yang benar adalah dengan mengutamakan kepentingan bersama sebelum kepentingan pribadi. Kurangilah sikap egois dan memaksa kehendak pribadi kepada orang lain, berusahalah mencari tahu tentang pendapat orang ataupun kepentingan orang tersebut.

Dari sinilah anda bisa memikirkan kebaikan bersama, carilah jalan keluar yang tidak menguntungkan satu pihak saja. Namun usahakan kedua belah pihak memiliki hak dan kewajibannya masing-masing, sehingga dengan menerapkan sikap tersebut anda termasuk ke dalam orang yang telah menegakkan Bhinneka tunggal ika.

2. Toleransi Terhadap Beragam Kepercayaan

Penerapan Bhinneka tunggal ika yang selanjutnya adalah menegakkan sikap toleransi, sikap ini bisa anda terapkan dalam menerapkan sikap toleransi beragama. Di Indonesia sendiri banyak agama yang diperbolehkan, disini anda bisa toleransi terhadap kepercayaan masyarakat lainnya.

Maksud toleransi kepercayaan ini bukan berarti anda ikut merayakan hari raya mereka, melainkan memberikan sikap sama sekali tidak ikut campur dalam urusan keagamaan yang mereka lakukan. Baik berupa ancaman, teguran, nasihat, ataupun mengganggu peribadatan yang mereka lakukan.

3. Musyawarah Untuk Mufakat

Musyawarah untuk mufakat tentu saja sudah sangat sering di dengar oleh masyarakat Indonesia, mengingat hal ini sering digunakan di Negara Indonesia. Bahkan negara demokrasi merupakan salah satu bentuk dari sikap musyawarah untuk mufakat.

Sikap yang satu ini ternyata merupakan bentuk penerapan semboyan Indonesia ini, dimana di dalamnya terdapat unsur menghargai orang lain dan tidak membedakan golongan tertentu. Selain itu musyawarah untuk mufakat juga mengajarkan sikap kebersamaan dan sosial yang sangat erat.

4. Menegakkan Sikap Pluralisme

Bentuk penerapan Bhinneka tunggal ika yang terakhir adalah dengan menegakkan sikap pluralisme, dimana pluralisme sendiri merupakan sikap tahu, percaya, paham, ataupun mengerti bahwa perbedaan dan keragaman adalah hal yang wajar. Di Indonesia sendiri sikap ini sangat diperlukan untuk keberlangsungan keutuhan wilayah yang ada di Negara Indonesia.

Oleh sebab itu penerapan Bhinneka tunggal ika berupa penegakan sikap pluralisme harus diperhatikan, masyarakat harus dibekali mengenai sikap ini bahwa perbedaan itu hal biasa dan wajar. Jangan sampai akibat perbedaan yang ada di Indonesia membuat negara menjadi kacau.

Sebagai masyarakat Indonesia yang baik tentunya menpelajari semboyan ini merupakan hal yang wajib dilakukan, apalagi semboyan yang satu ini telah melekat dengan Negara Indonesia. Bahkan Bhinneka tunggal ika menjadi pondasi berdirinya Negara Indonesia itu sendiri.

Kesimpulan

Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa Indonesia yang memiliki makna mendalam sebagai perekat persatuan di tengah keberagaman. Berasal dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, semboyan ini sejak awal mengajarkan nilai toleransi, kebersamaan, dan keharmonisan, khususnya dalam menyikapi perbedaan keyakinan, budaya, suku, bahasa, serta pandangan hidup. Pelajari isi teks proklamasi untuk menambah pengetahuanmu!

Sebagai salah satu pilar kebangsaan, Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, melainkan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti toleransi, gotong royong, persatuan, dan sikap inklusif, menjadi fondasi penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di tengah tantangan zaman dan potensi konflik akibat perbedaan, pemahaman dan penerapan Bhinneka Tunggal Ika secara tepat sangat dibutuhkan. Dengan menjunjung tinggi semboyan “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, masyarakat Indonesia diharapkan mampu hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, serta bersama-sama mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana tertuang dalam Pancasila.